Rabu, 09 November 2016

Tender PLTGU Jawa 1 Diminta Perhatikan Juga Kualitas Teknis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat kebijakan publik Agus Pambagyo mengatakan, perlu diketahui apa saja yang menjadi syarat dasar kelayakan penunjukan peringkat pertama pada pelaksanaan tender proyek PLTGU Jawa 1. Dia meminta agar Perusahaan Listrik Negara (PLN) selaku penyelenggara tender dapat menjelaskannya ke publik.
Menurut Agus, harus diakui sesuai ketentuan LKPP pada pelaksanaan sebuah tender, soal harga terendah adalah ukuran prioritas. Selama ini memang pada tender masih belum ada keterkaitan antara kelayakan harga dan kemampuan teknis (teknologi). Padahal, ucap Agus, dapat saja sisi kualitas teknis dapat menjadi prioritas kepatutan suatu tender walaupun perlu ada perubahan atau penambahan peraturannya.
"Jadi kalau harganya termurah sudah memenuhi persyaratan, untuk kualitas teknisnya itu belum tentu jadi perhatian khusus," ujar Agus, Ahad (30/10).
Dia mengingatkan agar jangan terlalu berharap bila penawaran harga yang rendah pada tender juga seimbang dengan jaminan kualitas sisi teknologinya. Agus mengemukakan alasan, hingga kini aspek keuangan atau harga adalah yang utama.
"Makanya harus dilihat dokumen persyaratannya, apa saja yang mendasari. Kalau memang hanya soal harga ditambah misalnya kesiapan tempat, ya sudah sampaikan saja. Jadi diketahui dulu apakah sisi teknologi masuk jadi standar penilaian juga atau tidak," tutur Agus.
Pada proses awal seleksi tender PLTGU Jawa 1 tentu masing-masing peserta juga sudah mempresentasikan kesanggupan mengerjakan proyek PLTGU Jawa 1. Agus mengatakan, tim evaluasi proposal kemudian menilainya sesuai kebutuhan dan kesesuaian persyaratan.
"Jadi sekali lagi harus diperjelas, apakah sisi kualitas teknologi disitu ikut sebagai penilaian atau tidak," ucap Agus.
Beberapa waktu lalu, Senior Manajer Humas PLN telah mengatakan bahwa pihaknya amat berhati-hati dalam penentuan peringkat pertama tender proyek PLTGU Jawa 1.
Dia mengatakan, tim evaluator benar-benar telah menganalisis dan memeriksa semua dokumen penawaran sebab proyek ini memiliki risiko kegagalan yang tinggi bila peserta tidak mengikuti syarat pengadaan. PLN, ujar Agung, juga meninjau pada aspek efisiensi tender.

BI : pertumbuhan kredit bank 6,4 persen pada September

Teluk Benoa (ANTARA News) - Bank Indonesia melaporkan perbankan pada September 2016 menyalurkan kredit sebesar Rp4.243,9 triliun atau tumbuh 6,4 persen, lebih lambat dari pertumbuhan tahunan pada Agustus yang sebesar 6,8 persen (year on year/yoy).
Kredit Modal Kerja (KMK) dan Kredit Investasi (KI) dari perbankan masih melambat, yakni masing-masing hanya tumbuh sebesar 4,1 persen secara tahunan (yoy) dan 9,3 persen (yoy) pada September 2016 ini, tulis laporan analisa uang beredar dalam arti luas (M2) BI yang diumumkan Senin, dikutip di Teluk Benoa, Bali.
"Perlambatan KMK utamanya pada industri pengolahan dan keuangan, real estate dan jasa persuahaan. Sementara KI melambat pada sektor industri pengolahan serta perdagangan, hotel dan restoran," tulis BI.
Terus melambatnya pertumbuhan kredit bank juga menjadi salah satu penyebab lambannya pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2). Uang beredar dalam artu luas pada September tercatat sebesar 5,1 persen (yoy), terjun bebas dari Agustus 2016 yang sebesar 7,8 persen (yoy).
Selain, lambatnya penyaluran kredit bank, BI melihat lesunya perputaran uang dalam arti luas juga karena kontraksi operasi keuangan pemerintah pusat. BI menyatakan simpanan pemerintah pusat di BI tumbuh 55,6 persen (yoy), berkebalikan dengan bulan sebelumnya yang turun sebesar -0,5 persen (yoy). Namun, menggelembungnya dana pemerintah tersebut juga karena penerimaan dana tebusan dari program amnesti pajak.
Di sisi lain, BI juga melihat efisiensi suku bunga bank terus berjalan. Indikasinya, suku bunga kredit dan simpanan perbankan kembali turun pada September 2016, meskipun besaran penurunannnya belum terlalu signifikan.
Suku bunga kredit pada September 2016 turun menjadi 12,23 persen dari 12,31 persen pada Agustus 2016.
Sementara itu, suku bunga simpanan berjangka tenor 1, 3, 6, dan 12 bulan masing-masing turun dari 6,67 persen, 6,94 persen, 7,41 persen, dan 7,74 persen pada Agustus 2016 menjadi 6,63 persen, 6,84 persen, 7,31 persen, dan 7,66 persen pada September 2016.
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2016